RSS

Saya Kira Sedang Patah Hati

Suatu waktu di tahun 2010, saya dan keluarga sempat dilanda kegalauan yang cukup mengkhawatirkan. Saat itu, saya dinyatakan lolos seleksi masuk sebuah PTN yang terkenal mahal biayanya. Uang belasan juta harus disiapkan (dengan tenggat waktu sekian hari) sebagai uang pangkal serta untuk biaya lain-lain. Saat itu, keluarga saya tidak punya tabungan untuk biaya kuliah, ditambah lagi SPP kakak (yang berkuliah di PTN yang sama) harus segera dibayar.

Selama beberapa hari orang tua saya mencari pinjaman uang kemana-mana. Setiap pagi, ibu pergi mencari pinjaman dengan wajah penuh semangat, tapi selalu pulang dengan mata sembab karena pinjaman itu gagal didapatkan. Ayah pun seolah tak mau kalah. Setiap ada kesempatan, beliau berusaha gunakan meski kegagalan selalu juga melanda. Beberapa kali saya optimis akan bisa berkuliah, tapi sebanyak itu pula akhirnya saya merasa sedikit putus asa karena deadline pembayaran semakin mendekat sedangkan uang tak kunjung didapat.

“Kenapa ya, kok semua jalan mencari pinjaman serasa tertutup?” tanya kakak keheranan.

“Jika memang belum ada biaya, berhentilah kuliah sejenak tahun ini. Tahun depan barulah lanjutkan,” pesan ibu pada saya.

Hingga akhirnya pinjaman dari bibi kami dapatkan meski tak banyak. Ayah pun ternyata berhasil meminta permohonan pembayaran angsuran. Jadilah saat itu saya ”hanya” membayar sekian juta. Keesokan harinya, ternyata nama saya kembali dinyatakan lolos seleksi sebuah PTK yang saya idamkan dan yang bebas biaya.

Seketika saya tersadar. Saya merasa Allah telah melindungi saya. Bukan semua jalan telah tertutup, melainkan Allah telah menyiapkan jalan lain yang lebih indah.

Kisah itu hanya satu contoh karena masih banyak cerita yang lain. Berulang kali saya merasa telah ‘’patah hati’’ karena tak mendapatkan apa yang saya mau, berlipat kali Allah menunjukkan jawaban atas pertanyaan yang saya pendam. Bisa jadi cepat, bisa jadi pula butuh kesabaran untuk menemukannya di saat yang tepat

Seringnya, kita berburuk sangka atas segala kesulitan yang tampak di depan mata. Kita lupa bahwa kita hanya memakai sudut pandang sebagai manusia. Allah sangat mencintai kita, Allah Mahatahu apa yang kita perlu, tak sekadar apa yang kita mau.

Sebagai penutup, mari kita renungkan gambar di bawah ini baik-baik. Semoga bermanfaat.

Gambar

——-

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

            “Tetapi Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,                          padahal itu tidak baik bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 14, 2014 in Uncategorized

 

Long Distance Family Relationship – Cinta Jarak Jauh

“Andai waktu bisa berputar, kembali berulang ketika kita sekeluarga berkumpul bersama. Ah, tidak bisa ya,” ujar Ibu siang itu dengan sedikit haru.

—–

Sejak saya dan saudara-saudari saya beranjak dewasa, kerap kali ibu berbicara tentang jarak yang kan menjauh. Pun dengan ayah. Ketika kami—para anak-anak—masih kecil, kami sekeluarga memang selalu hidup bersama. Tapi, kami sudah mulai “dilatih” untuk menempuh Long Distance Family Relationship (LDFR). Tuntutan kerja ayah untuk selalu pindah-pindah kota menyebabkan kami beberapa kali mengalami LDFR, meski waktunya hanya sebentar. Pindah kota tentu memerlukan banyak persiapan, termasuk sekolah baru anak-anak yang biasanya baru akan pindah setelah libur cawu/semester untuk memudahkan. Sedangkan instansi ayah pastinya tidak melihat kondisi liburan atau tidak. Itulah penyebab LDFR sejenak kami.

Beberapa waktu belakangan ini, LDFR kami semakin terasa. Kakak yang sudah berkeluarga tinggal di Malang, saya kuliah di Tangerang Selatan 3 tahun kemarin, ayah bekerja di Makassar, sedangkan ibu dan adik-adik tinggal di Pasuruan karena beberapa pertimbangan. Beberapa waktu kedepan, kemungkinan besar saya sudah berada di kota entah dimana (risiko anak PTK) dan ayah kembali dimutasi.

Sedih memang ketika harus pergi jauh dari keluarga. Ketika kembali, ternyata tanpa terasa orang tua kita semakin menua dan saudara-saudari telah mendewasa. Ada detik-detik perjuangan bersama yang harus terlewatkan. Namun, dari LDFR ini saya belajar tentang banyak hal. Saya tahu bagaimana cara ayah untuk menjalin komunikasi dengan cara menelepon semua anggota keluarga setiap hari, bagaimana motivasi ayah senantiasa menemani ketika mental anak-anak jatuh, bagaimana kesetiaan ibu menanti suami dan anak-anaknya, bagaimana ibu mempersiapkan hal-hal spesial ketika kami sekeluarga berkumpul, bagaimana ayah dan ibu memberi kepercayaan pada anak-anak yang tinggal di tempat jauh sambil tetap mengontrol, dan masih banyak lagi. Kuncinya adalah komunikasi, kepercayaan, kesetiaan, tanggung jawab, dan komitmen. Allah telah memberi saya kesempatan untuk belajar kehidupan melalui kondisi ini. Tidak ada yang salah dengan masalah. Yang salah adalah ketika kita salah dalam menyikapinya.

 ********

(Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang)

*Imam Syafi’i*

 

(Bukankah gunung jauh lebih menakjubkan dan lebih terlihat jelas oleh seseorang yang melalui lembah daripada mereka yang menghuni gunung?)

*Kahlil Gibran*

—–

“Biar jarak mencipta rindu ya, Bu,” jawab saya, kala itu.

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2014 in Uncategorized

 

High Level Education For A mother. Is it Important?

                When a woman decides to be a housewife, many people said that she doesn’t need to study until the highest level she can do. It caused by their opinion that a housewife will work only in the kitchen. Besides that,  she will only clean the house and keep her children.

                I disagree with that opinion. According to me, high level education for a woman—although she is a housewife—is very important because she will be a wife and be a mother. Why did I say that?

                Okay, let’s see Japan for the example. It has Kyoiku Mama and Ryosai Kenbo. Kyoiku Mama is education of mother. There are many women in Japan that don’t work. They just want to educate and keep their children. Kyoiku Mama teaches about politeness and other good values to make her children become better people. Most of Kyoiku Mama are undergraduate or postgraduate. They studied not for working, but for educating their children. Japan has good development in economy, and Kyoiku Mama is one of the reason.

                Apart of that, Japan has slogan ‘Ryosai Kenbo’. Ryosai is a good wife and Kenbo is a wise mother. Japan wants to make a good quality in relationship between mother and children. So, its next generation will have good personality. It’s great!

                It reminds me about a motivator’s answer in the other chance. One day, someone asked him, “What’s the function of your wife high level education? She studied abroad, but now she is a housewife.” That motivator said, “Yeah, my wife is a housewife. But, she is my children’s mother, my advisor to build our business, the owner of the asset, and my family’s doctor. So, her high level education is useful.” That motivator inspired me.

                What’s the conclusion? Here it is. We know that woman is a teacher for her children. Education will make her paradigm be better to see the problem, solve the problem, and teach her children. That’s why we are not allowed to underestimate the duty of woman, especially housewife. She has important position to build the country. It means that high level education is very important for her.

—–

(My final speaking examination in The Daffodils. Taken from some sources)

 
5 Comments

Posted by on February 9, 2014 in Uncategorized

 

Pare, I gotta go now :’)

Belajar di kampung inggris adalah resolusi saya di tahun 2013 yang baru terlaksana pada tahun 2014 ini. Alhamdulillah. Sekitar 3 tahun lamanya saya tidak pernah praktik speaking English lagi. Hal ini membuat saya tidak bisa melakukannya bahkan untuk percakapan sederhana sekalipun. Maka, saya memutuskan untuk mengambil program speaking di The Daffodils dan tinggal di Cherry Camp yang merupakan 80% english area.
Pertama kali datang ke camp, saya merasa kebingungan. Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi, right? Masalahnya, saya belum bisa bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Maka, saya hanya bisa mendengarkan teman-teman memperbincangkan banyak hal, sedangkan saya tidak mampu bercerita seperti mereka. Kondisi ini, ditambah lagi belum dimulainya kelas di The Daffodils, membuat saya tidak betah. Rasanya ingin pulang saja. Ternyata, beberapa teman juga merasakan hal yang sama. Bahkan ada 2 orang teman yang memutuskan untuk hengkang dari camp, entah pergi dari Pare juga atau tidak.
Seiring berjalannya waktu, saya bahagia disini. Apalagi di kelas Mr. Pepsi di The Daffodils. I do love Mr. Pepsi’s class, i do love my classmates, i do love my friends in Cherry. I do love them. Saya mulai bisa menumbuhkan ingatan tentang vocabulary, structure, dll yang dulu telah saya pelajari di sekolah. Saya mulai percaya diri ketika diminta untuk bercerita tentang apapun oleh siapapun. Yang membahagiakan, minggu ini saya naik kelas dari Medium ke Advance level setelah mengikuti weekly test di Cherry.
Keceriaan itu berlangsung hingga sabtu, tanggal 18 januari kemarin. Allah menganugerahkan sakit untuk saya. Selama beberapa hari saya hanya beristirahat di kamar dan tidak mempraktikkan bahasa Inggris lagi. Mengetahui kondisi saya, orang tua meminta saya untuk pulang. Ketika saya mencoba mempertahankan argumen untuk tetap tinggal disini, orang tua tetap pada pendirian mereka. I don’t know, will I come back there after going home? I’m so sad. I don’t have time to come back there anymore. I think It’s my first and my last opportunity. But, my friends said to me, “No problem, dear. Your health is the most important thing.”, “Belajar tidak harus disini, Sist. Jika kamu tidak boleh kembali kesini setelah sembuh atau tidak punya waktu untuk kembali ke sini lagi, maybe sometimes you can study abroad with your husband? There are many ways to study.”, “Dian, God has the best plan for you.”
Bertahan di awal ketika masih beradaptasi dan ternyata harus pergi ketika mulai mencintai itu rasanya… Tapi apa gunanya memaksakan diri ketika orang tua tidak ridho, bukan? Ya, Allah akan memberikan yang terbaik. Jika Pare adalah tempat terbaik untuk saya belajar bahasa inggris, saya akan kembali kesini nanti setelah sembuh. Jika tidak, saya akan belajar di tempat lain, dengan teman lain, dengan kebahagiaan lain. Ah, terlalu banyak yang ingin saya kisahkan. Mungkin nanti, suatu saat nanti akan saya ceritakan.
Note for my friends in Pare : Thanks for your kindness. I love u and I’ll miss you. Hope I can meet you again…later 🙂

 
3 Comments

Posted by on January 20, 2014 in Uncategorized

 

Untuk Habib Mundzir yang Lembut Hatinya

Bulan Ramadhan di tahun 2011–kalau tidak salah–saya baru mendengar nama Habib Munzir Almusawa. Suatu hari saya terheran-heran ketika menonton program Damai Indonesiaku. Setiap Habib ini menjadi pembicara, jamaah yang datang sangat banyak dan kebanyakan dari mereka mengenakan jaket bertuliskan ‘Majelis Rasulullah (MR)’. Hal ini terjadi di beberapa episode. Siapakah Habib ini? Mengapa beliau dicintai banyak orang?
Image

Kemudian, di suatu episode di program tersebut, ditayangkan prosesi saat beliau menuntun seseorang untuk mengucapkan syahadat. Setelah selesai, beliau mengajak berdzikir semua jamaahnya dengan dzikir yang khas: “Ya Allah… Ya Allah.. Ya Allah..” Siapakah Habib ini?

Saya pun memutuskan untuk googling, memasukkan kata kunci MR, dan masuk ke dalam webnya di http://www.majelisrasulullah.org. Saya coba membaca tulisan2 beliau melalu forum tanya jawab dan semakin lama saya semakin menyukainya. Banyak pertanyaan di kepala saya yang kemudian terjawab dari web tersebut. Saya yang hampir saja berubah menjadi ‘kaku’, kemudian paham bahwa saat itu sepertinya saya mengalami ‘pubertas religi’. Habib Munzir mengajarkan banyak hal. Amat banyak. Beliau selalu mengedepankan kelembutan, tidak pernah mencaci maki, dan berusaha menyampaikan ilmu dengan sebaik-baiknya meskipun kondisi beliau sering sakit.

Saya tidak pernah menghadiri majelis beliau yang seringkali dilaksanakan di malam hari. Hingga pada suatu waktu, saya mendapat kabar bahwa MR akan diselenggarakan di dekat kampus saya. Untuk pertama kalinya saya datang kesana. Masya Allah, begitu tentramnya disana, begitu ramainya, begitu antusias masyarakat mengikutinya. Sayangnya, Habib Mundzir berhalangan hadir dikarenakan sakit. Gagal berjumpa dengan beliau, saya pun berdoa kepada Allah agar suatu saat dapat berjumpa dengan beliau. Saya sangat ingin menjumpainya.

Pada tanggal 24 Januari 2013 pagi, saya hadir dalam peringatan Maulid Nabi di Monas. Saya sangat takjub karena akhirnya saya dapat langsung hadir ke majelis beliau di Monas yang pasti akan dipadati oleh masyarakat. Banyak pula jamaah yang datang dari luar provinsi dengan rombongan bis. Acara pagi itu begitu syahdu ditambah guyuran hujan yang tiba2 turun namun dapat berhenti tak lama kemudian. Saya merasa sangat damai ketika Habib Mundzir berkata “Mari kita doakan Bapak kita…” yang ditujukan kepada Presiden SBY yang turut hadir dalam acara tersebut. Dikala saya sering mendengar seruan dari pihak2 tertentu untuk melawan pemerintah yang merupakan taghut, Habib Mundzir berlaku sebaliknya. Beliau menyapa presiden, ulama, tokoh, dan jamaah yang hadir dengan penuh kasih sayang.

Seusai acara, cukup banyak jamaah yang berlarian ke suatu sisi. Saya yang merasa penasaran pun ikut berlari kesana sambil bertanya2, akan ada apa ini? Ternyata, mobil yang ditumpangi Habib Mundzir melintas disana. Beliau melambaikan tangan sambil tersenyum begitu tulus pada para jamaah. Saya yang berdiri hanya dengan jarak sekitar 2-3 meter dari mobil tersebut dapat melihat muka beliau bercahaya dan saya pun sontak menangis tersedu. Entah rasa apa ini. Saat itu saya bergumam dalam hati, “Mungkin itu tadi wajah calon penghuni surga. Penghuni surga yang mungkin akan bersanding dengan Rasulullah dan berjumpa dengan Allah.”
Allah telah mengabulkan doa saya untuk dapat bertemu dengan Habib Mundzir. Mungkin banyak jamaah yang telah lama mengenal beliau dan sangat mencintai beliau tapi belum pernah sekalipun berjumpa dengannya. Sedangkan saya? Saya yang hanya anak pupuk bawang ini diberi kesempatan oleh Allah untuk  berjumpa dengan Habib Mundzir.

Saya ingin bertemu lagi. Saya ingin belajar banyak dari beliau secara langsung. Saat itu saya berharap mendapat penempatan kerja di pusat sehingga suatu hari nanti saya dan keluarga dapat selalu bersama-sama menghadiri majelis beliau.
Image

15 September 2013, berita itu pun datang. Habib Mundzir telah wafat. Saya belum sempat berjumpa lagi dengannya. Masya Allah, kesedihan itu dirasakan oleh banyak umat. Maaf Habibana, saya tidak bisa mengantar Habibana ke peristirahatan terakhir. Semoga Habibana mendapat kebahagiaan yang tiada putus2nya disana.

Semoga Allah mengampuni dosa2 dan menerima amal sholih Habibana.
Semoga Allah mengabulkan doa saya untuk berjumpa dengan Habibana kelak di dalam Jannah, bersama dengan Rasulullah, dan berjumpa dengan Allah.

Aamin.

Image

website : http://www.majelisrasulullah.org
Rekomendasi buku : Kenalilah Akidahmu — dapat didownload di web tersebut

 
2 Comments

Posted by on September 16, 2013 in Uncategorized

 

Kenalan Sama Para Imam dan Muhadditsin, Yuk! (Kenalilah Akidahmu 2 – The Series)

1. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafii
rahimahullah
Dikenal dengan gelar Imam Syafii, lahir pada tahun 150H dan wafat pada 204H, berkata
Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) bahwa tiada kulihat seorang yang lebih mengikuti hadits selain Muhammad bin Idris Assyafii, berkata pula Imam Ahmad (yang merupakan murid dari Imam Syafii) aku mendoakan Syafii selama 30 tahun setiap malamnya, dan Imam Syafii ini berguru kepada Imam Malik, dan ia telah hafal Alqur’an sebelum usia 10 tahun, dan pada usia 12 tahun ia telah hafal Kitab Al Muwatta’ karangan Imam Malik yang berisi sekitar 2.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.

2. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Beliau wafat pada tahun 241 H dalam usia 77 tahun, beliau berguru pada banyak para Imam dan Muhaddits, diantara guru beliau adalah Imam Syafi’i rahimahullah, dan beliau hafal 1.000.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Beliau digelari sebagai salah satu “Huffadhuddunia” yaitu salah satu orang yang paling banyak hafal hadits diseluruh dunia sepanjang zaman, dan beliau rahimahullah banyak mempunyai murid, diantaranya adalah Imam Muslim rahimahullah.

Diriwayatkan ketika datang seorang pemuda yang ingin menjadi murid beliau maka beliau berkata pada anak itu : “ini ada 10.000 hadits, hafalkanlah, bila kau telah hafal, barulah kau boleh belajar bersama murid – muridku”, tentunya murid – murid beliau adalah para Huffadh dan Muhadditsin yang hafal ratusan ribu hadits, maka pemuda itu pun pergi dan kembali beberapa waktu kemudian. Ia telah hafal 10.000 hadits yang diberikan oleh Imam Ahmad itu dan lalu Imam Ahmad berkata : “sungguh hadist yang kau hafal itu adalah hadits palsu, tidak ada satupun yang shahih, hafalan itu hanya untuk latihan menguatkan hafalanmu, sebab bila kau salah maka tak dosa”, karena bila ia hafalkan hadits shahih lalu ia salah dalam menghafalnya maka ia akan membawa dusta dan kesalahan bagi ummat hingga akhir zaman.

Diriwayatkan ketika Imam Ahmad bin Hanbal hampir wafat, ia wasiat kepada anaknya untuk menaruhkan 3 helai rambut Rasulullah saw yang memang disimpannya, untuk ditaruhkan 3 helai rambut Rasul saw itu masing – masing di kedua matanya dan bibirnya.
Beliau wafat pada malam jum’at, dan muslimin yang menghadiri shalat jenazahnya sebanyak 800.000 pria dan 60.000 wanita, bahkan bila dihitung dengan kesemua yang datang dan datang maka mencapai 1.000.000 hadirin.

Berkata Imam Abubakar Almarwazi rahimahullah, aku bermimpi Imam Ahmad bin Hanbal
setelah ia wafat, kulihat ia disebuah taman indah, dengan pakaian jubah hijau dengan
memakai Mahkota Cahaya. Berkata Imam Abu Yusuf Alhayyan bahwa ketika wafat imam Ahmad, ada orang yang bermimpi bahwa setiap kubur diterangi pelita, dan pelita itu adalah kemuliaan atas wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan banyak dari mereka yang dibebaskan dari siksa kubur karena wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal diantara mereka.

Berkata Imam Ali bin Al Banaa’, ketika dimakamkan Ummul Qathi’iy didekat makam Imam
Ahmad, maka beberapa hari kemudian ia bermimpi berjumpa Ummul Qathi’iy, seraya berkata : “Terimakasih atasmu yang telah memakamkanku disamping kubur Imam Ahmad, yang setiap malam Rahmat turun dikuburnya dan Rahmat itu menyeluruh pada ahlil kubur disini hingga akupun termasuk diantara yang mendapatkannya”.

3. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al
Bukhari rahimahullah
Beliau lahir pada hari jum’at selepas shalat jum’at 13 Syawal 194 H dan beliau wafat pada
malam jumat yang sekaligus malam Idul Fitri tahun 256 H.
Berkata Imam Muhammad bin Yusuf Al Farbariy, aku mendengar dari Najm bin Fudhail
berkata: “aku bermimpi Rasulullah saw dan kulihat Imam Bukhari dibelakang beliau
saw, setiap beliau saw melangkah sebuah langkah, dan Imam Bukhari melangkah pula
dan menaruhkan kakinya tepat dibekas pijakan Nabi saw”.

Ketika dikatakan kepada Imam Bukhari bahwa ada disuatu wilayah yang barangsiapa
orang asing yang datang ke wilayah mereka maka saat setelah shalat maka penduduk
setempat akan mencobanya dengan hadits – hadits tentang shalat, maka Imam Bukhari
berkata : “Bila aku diperlakukan seperti itu akan kukeluarkan 10.000 hadits shahih
mengenai shalat dihadapan mereka agar mereka bertaubat dan tidak lagi mengulangi perbuatan buruk itu”.

Imam Bukhari telah menulis shahih-nya sebanyak sekitar 7.000 hadits saat beliau belum
berusia 17 tahun, dan ia telah hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 shahih di usia
tersebut. Berkata Imam Al Hafidh Muhammad bin Salam rahimahullah : “kalau datang si bocah ini maka aku terbata – bata dan tak nyaman membaca hadits”, dan ia berkata kepada seorang tamunya yang datang setelah Imam Bukhari pergi : “kalau kau datang lebih cepat sedikit kau akan berjumpa dengan bocah yang hafal lebih dari 70.000 hadits..”, maka tamunya segera bergegas menyusul Imam Bukhari, dan Imam Bukhari berkata : “sungguh aku hafal lebih dari itu, dan akan kujelaskan padamu semua masing – masing sanad periwayat hadits-nya, dimana lahirnya, tahun kelahiran dan wafatnya, sifat dan sejarah periwayat sanad – sanadnya dari semua hadits itu”.

Ketika salah seorang perawi hadits bertanya kepada Imam Bukhari mengenai nama – nama periwayat, gelar, bentuk kesalahan sanad hadits dll, maka Imam Bukhari menjawabnya bagaikan membaca surat Al Ikhlas.
Berkata Imam Bukhari : “aku berharap menghadap Allah tanpa ada hisab bahwa aku
pernah menggunjing aib orang lain”.

Suatu hari Imam Bukhari mengimami shalat dhuhur disebuah kebun korma, dan didalam
bajunya terdapat seekor Zanbur (kumbang hitam) yang menggigit dan menyengatnya hingga 16 sengatan, selepas shalat Imam Bukhari berkata dengan tenang : “coba kalian lihat ada apakah di dalam baju lenganku ini”, maka ditemukanlah 16 luka sengatan kumbang di tubuhnya.

Suatu ketika Imam Bukhari membacakan sanad hadits dan saat ia melirik dilihatnya ada orang yang terkesima dengan ucapannya, dan Imam Bukhari tertawa dalam hati, keesokan harinya Imam Bukhari mencari orang itu dan meminta maaf dan ridho karena telah menertawakannya, padahal ia hanya menertawakan didalam hati.

Diriwayatkan ketika Imam Bukhari sedang mengajari hadits kepada salah seorang muridnya dan ia tampak bosan, maka Imam Bukhari berkata : “para pedagang sibuk dengan perdagangannya, para pegawai sibuk dengan pekerjaannya, dan engkau bersama Nabi Muhammad saw”.

Imam Bukhari menulis shahih-nya (Shahih Bukhari) di Raudhah, yaitu antara Mimbar
dan Makam Rasulullah saw di Masjid Nabawiy Madinah Almunawwarah, dan ia mandi
dan berwudhu lalu shalat 2 rakaat baru menulis satu hadits, lalu kembali mandi, berwudhu, dan shalat 2 rakaat, lalu menulis 1 hadits lagi, demikian hingga selesai di hadits No.7124. Maka selesailah 7.000 hadits itu ditulis di kitab beliau, dengan bertabarruk dengan Makam Rasulullah saw dan Mimbar Rasul saw.

Berkata Imam Muslim dihadapan Imam Bukhari : “Izinkan aku mencium kedua kakimu
wahai Pemimpin para Muhadditsin, guru dari semua guru hadits”.
Dikatakan kepada Imam Bukhari, mengapa tak kau balas orang yang memfitnahmu dan
mencacimu?, ia menjawab : “aku teringat ucapan Rasul saw : “akan muncul kelak ikhitilaf
dan perpecahan, maka bersabarlah hingga kalian menjumpai aku di telaga haudh”.

Imam Bukhari mempunyai akal yang jenius, dan ia hafal bila mendengar 1X saja. Atau
membaca 1X saja. Hingga ketika suatu ketika Imam Bukhari dicoba dan diajukan padanya
100 hadits yang dikacaukan dan dibolak – balik sanadnya, maka Imam Bukhari berkata :
“tidak tahu… tidak tahu”, hingga hadits yang ke-100, lalu Imam Bukhari berpidato, mengulang hadits yang pertama yang disebut si penanya : “kau tadi sebut hadits dengan
sanad seperti ini, dan yang benar adalah begini”, demikian hadits kedua.. ketiga… hingga
100 hadits. Ketika telah wafatnya Imam Bukhari, terjadi kekeringan yang berkepanjangan, maka para Ulama, Huffadh dan Muhadditsin dari wilayah samraqand berduyun – duyun ke Makam Imam Bukhari, lalu mereka bertawassul pada Imam Bukhari, maka hujan pun turun dengan derasnya hingga 7 malam mereka tertahan dan tak bisa pulang ke samraqand karena derasnya hujan.

(bersambung)


Beberapa postingan saya yang berlabel “Kenalilah Aqidahmu 2 – The Series” merupakan bagian-bagian dari buku berjudul “Kenalilah Aqidahmu 2″ oleh Hb. Munzir Almusawa. Semoga dengan begini, teman2 bisa tetap mengambil ilmunya bila agak berat membaca versi lengkapnya, atau bahkan semakin tertarik untuk membaca buku tersebut lebih dalam.

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2013 in Uncategorized

 

Bermadzhab, Haruskah? (Kenalilah Aqidahmu 2 – The Series)

Beberapa postingan saya kedepan yang berlabel “Kenalilah Aqidahmu 2 – The Series” merupakan bagian-bagian dari buku berjudul “Kenalilah Aqidahmu 2” oleh Hb. Munzir Almusawa. Semoga dengan begini, teman2 bisa tetap mengambil ilmunya bila agak berat membaca versi lengkapnya, atau bahkan semakin tertarik untuk membaca buku tersebut lebih dalam.

Untuk postingan pertama ini, mari kita baca tentang “Bermadzhab, Haruskah?”. Jangan terburu- buru untuk bosan karena nanti akan ada ilustrasi menarik serta mudah untuk kita pahami, insya Allah. Semoga bermanfaat 🙂

—–

Mengenai keberadaan negara kita di indonesia ini adalah bermadzhabkan syafii, demikian guru – guru kita dan guru – guru dari guru – guru kita, sanad guru mereka jelas hingga Imam Syafii, dan sanad mereka muttashil hingga Imam Bukhari, bahkan hingga Rasul saw.

Bukan sebagaimana orang – orang masa kini yang mengambil ilmu dari buku terjemahan atau menggunting dari internet lalu berfatwa untuk memilih madzhab semaunya. Anda benar, bahwa kita mesti menyesuaikan dengan keadaan, bila kita di Makkah misalnya, maka madzhab disana kebanyakan Hanafi, dan di Madinah madzhab kebanyakannya adalah Maliki, selayaknya kita mengikuti madzhab setempat, agar tak menjadi fitnah dan dianggap lain sendiri, beda dengan sebagian muslimin masa kini yang gemar mencari yang aneh dan beda, tak mau ikut jamaah dan cenderung memisahkan diri agar dianggap lebih alim dari yang lain, hal ini adalah dari ketidakfahaman melihat situasi suatu tempat dan kondisi masyarakat.

Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara shariih (shariih : jelas). Namun
bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib, yaitu apa – apa yang mesti ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, menjadi wajib hukumnya.

Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? tentunya mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada, dan yang ada hanyalah air yang harus beli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? dari mubah berubah menjadi wajib tentunya karena perlu untuk shalat yang wajib.

Demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di Imam – Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal – hal yang fardhu atau wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya.

Sebagaimana suatu contoh kejadian ketika Zeyd dan Amir sedang berwudhu, lalu keduanya ke pasar, dan masing – masing membeli sesuatu di pasar seraya keduanya menyentuh wanita, lalu keduanya akan shalat, maka Zeyd berwudhu dan Amir tak berwudhu. Ketika Zeyd bertanya pada Amir, mengapa kau tak berwudhu? bukankah kau bersentuhan dengan wanita? Maka amir berkata, aku bermadzhabkan Maliki, maka Zeyd berkata, maka wudhumu itu tak sah dalam madzhab malik dan tak sah pula dalam madzhab syafii, karena madzhab maliki mengajarkan wudhu harus menggosok anggota wudhu, tak cukup hanya mengusap, namun kau tadi berwudhu dengan madzhab syafii dan lalu dalam masalah bersentuhan kau ingin
mengambil madzhab maliki, maka bersuci mu kini tak sah secara maliki dan telah batal pula dalam madzhab syafii.

Demikian contoh kecil dari kebodohan orang yang mengatakan bermadzhab tidak wajib, lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas wudhunya? Ia butuh sanad yang ia pegang bahwa ia berpegangan pada sunnah Nabi saw dalam wudhunya, sanadnya berpadu pada Imam Syafii atau pada Imam Malik? atau pada lainnya? atau ia tak berpegang pada salah satunya sebagaimana contoh diatas.

Dan berpindah – pindah madzhab tentunya boleh – boleh saja bila sesuai situasinya, ia pindah ke wilayah malikiyyun (malikiyyun orang – orang yang bermadzhab maliki) maka tak sepantasnya ia berkeras kepala dengan madzhab syafii-nya. Demikian pula bila ia berada di Indonesia, wilayah madzhab syafi’iyyun, tak sepantasnya ia berkeras kepala mencari madzhab lain.

wallahu a’lam

 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2013 in Uncategorized