RSS

Lima Pekan Menjadi Calon Ibu

30 Dec

27 Desember 2014

Hari itu menjadi hari yang tak terlupakan bagi saya. Setelah beberapa hari merasakan beberapa tanda-tanda tak lazim, saya memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan pada siang hari. Hari itu saya pertama kali diperiksa dengan memakai USG. Alhamdulillah, saya dinyatakan positif hamil. Takjub rasanya ketika melihat kantong janin yang ada di dalam rahim saya. Ya, masih berupa kantong janin karena usia kandungan diperkirakan masih sekitar 5 pekan. Saya pun segera memberitahu kabar bahagia ini pada keluarga. Semua berbahagia.

28 Desember 2014

Hari itu, lagi-lagi, menjadi hari yang tak terlupakan bagi saya. Pagi hari, tiba-tiba saya merasakan nyeri pinggang yang amat hebat. Semakin lama semakin kuat. Ternyata, saya mengalami pendarahan yang cukup banyak. Saya pun diantar suami menuju RS yang kemarin saya datangi untuk periksa kehamilan. Kami lupa bahwa di hari Minggu, tak ada dokter spesialis yang jaga. Saya pun disarankan untuk menuju RSIA yang jaraknya tak begitu jauh. Lagi-lagi, kami tak bisa menemukan dokter spesialis disana.

Saya pun meminta untuk pergi konsultasi ke bidan saja. Saya mendapat penjelasan panjang lebar dari bidan. Intinya, saya diminta untuk segera masuk UGD di RS umum karena saya harus segera mendapat penanganan.

Sesampainya di RS pada siang hari, para perawat langsung mendudukkan saya di kursi roda begitu mereka mengetahui saya mengalami pendarahan. Saya dibawa masuk ke UGD. Setelah diperiksa, diketahui bahwa pintu rahim telah terbuka. Sembari menunggu dokter yang baru tiba di sore hari, saya pun segera diinfus di tangan kiri.

Keluarga saya kembali saya hubungi. Namun, kali ini dengan berita yang berbeda. Berita yang membuat semua cemas, khawatir, dan berdoa memohon yang terbaik.

Selama menunggu dokter, saya bersebelahan dengan seorang ibu yang hendak melahirkan. Allah, di sebelah saya, ibu dan bapak itu akan segera bertemu dengan bayinya. Di sisi lain, ada saya dan suami yang terancam kehilangan calon bayi kami. Saya menanti dalam kegelisahan hingga sekitar pukul 15.30, dokter akhirnya datang. Saya pun dibawa ke ruang kebidanan dan kembali di-USG.

“Bapak, Ibu, kantong janinnya sudah tidak ada, sudah luruh. Berarti sudah keguguran ya. Sekarang tinggal sisanya, sebaiknya dikuret agar tidak menimbulkan masalah ke depannya.”

Saya dan suami pun terhenyak. Ini bukan mimpi, ini realita yang harus kami hadapi. Kami pun setuju untuk dilakukan kuret.

Saya kembali dibawa ke UGD. Perawat mengambil darah di daun telinga dan di lengan tangan sebelah kanan untuk pemeriksaan hemoglobin. Beberapa waktu kemudian, mereka memasangkan selang oksigen ke hidung saya, kemudian saya dibius total. Sesaat setelah bius masuk melalui selang infus saya, saya langsung merasa dunia berputar. Saya jatuh bangun di dalam kotak-kotak besar, berputar, jatuh, bangun, masuk kotak lain, berputar lagi, jatuh lagi, begitu seterusnya hingga saya mulai sadar dari pengaruh bius. Saya hanya dapat mendengar suara, tapi berat untuk membuka mata. Saya merasakan pinggang dan perut amat sakit disertai dengan mual parah. Tapi dunia saya masih berputar. Karena merasa kurang nyaman, spontan saya berteriak-teriak. Perawat di sebelah saya menenangkan saya. Ia berkata bahwa itu adalah efek dari kuret yang telah selesai dilakukan. Mendadak saya tenggelam lagi dalam dunia yang berputar. Ketika sadar lagi, suami saya telah berada di samping saya, memperdengarkan saya dengan tilawahnya, dan sesekali memanggil-manggil saya. Setelah agak lama timbul-tenggelam dalam putaran, akhirnya saya dapat membuka mata. Saya pun dinyatakan sadar total.

Tak lama setelah saya sadar, para tetangga berdatangan menghibur saya dan mengatakan saya harus ikhlas. Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Kini, saya sudah beristirahat di rumah, kembali berdua dengan suami. Berdua saja, tanpa calon bayi kami. Sedih? Manusiawi. Air mata? Itu lumrah. Putus asa? Marah? Jangan pernah. Saya dan suami yakin ini adalah ujian yang harus kami lalui dengan lapang hati. Ada banyak hikmah bila kami mau melihat dengan jernih. Kami punya kisah yang dapat saling menguatkan rasa sabar, syukur, dan cinta.

Insya Allah.

siluet-suami-istri-ikhwan-akhwat-matahari

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on December 30, 2014 in Uncategorized

 

4 responses to “Lima Pekan Menjadi Calon Ibu

  1. shin

    December 30, 2014 at 4:29 am

    sabar, ikhlas, dan tetap bersyukur. Semangat bu dian.

     
  2. Shahfira

    December 30, 2014 at 10:45 am

    Sabar dan syukur yaa Dian sayaaang, Allah Maha Tahu yg terbaik utk kita.. *pelukDian*

     
  3. Nazya Junaidi

    December 31, 2014 at 7:56 am

    Sabar ya sayaaang…selalu semangat dan bersyukur kepada Allah 🙂

     
  4. Kartika

    December 31, 2014 at 8:40 pm

    Aku tahu Mbak Dian akan kuat seperti biasanya. 🙂
    Allah memilihkan jalan yang terbaik….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: