RSS

Siap Menerima, Siap Melepaskan

28 Apr

Gambar

Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPB). Dulu, semasa kuliah, saya sangat berharap terhindar dari instansi itu. Instansi yang terkenal memiliki kantor di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosoknya. Namun entah mengapa, ketika membaca namanya disebut di proposal sebagai tempat kerja (calon) suami, yang terlintas di benak berubah menjadi: “Mungkin ini kesempatan saya untuk menjelajah Indonesia, menebar kebaikan bersama suami.” Setelah mempertimbangkan segala aspek, saya mantap untuk menerimanya—calon suami saya itu—sebagai pendamping hidup dengan konsekuensi yang harus saya jalani. Menjadi istri seorang pegawai DJPB.

Empat hari setelah menikah, saya sudah diboyong suami ke Bintaro. Sesampainya di Bintaro, kami harus berpisah selama tiga pekan lebih karena suami harus menjalani assessment dan prajabatan di luar Bintaro.  Adakalanya rasa sedih hinggap di hati. Namun, saya teringat bahwa saya tidak boleh mengasihani diri saya sendiri seolah-olah ini adalah ujian yang amat berat. Saya telah belajar banyak tentang ketegaran dan kesetiaan ibu yang tinggal berjauhan dengan ayah selama beberapa tahun. Jika ibu saya mampu, bukankah sebagai anak, saya harus jauh lebih hebat daripada itu?

Lagipula, semestinya saya malu jika bercermin pada kisah Zulebid, pemuda yang hidup di zaman Rasulullah. Zulebid yang baru saja menikah harus segera pergi hari itu juga karena ada panggilan untuk berjihad dalam perang.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini,” Zulebid meminta izin pada istrinya.

Apa jawaban sang istri?

“Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu.”

Yang terjadi selanjutnya begitu mengharukan. Zulebid gugur sebagai syuhada’ dalam peperangan itu hingga sang istri bermimpi berjumpa dengannya. Dalam mimpi itu, Zulebid berkata “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu. Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.”

Ya, kisah saya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kisah di atas. Meskipun kelak saya akan mengalami hal yang lebih berat dari yang terjadi saat ini, mestinya saya harus tetap bersabar dan bersyukur. Allah sedang mendidik saya (dan kita semua) dengan cara-Nya. Lagipula, saya tidak bisa mempersembahkan hal-hal spesial untuk suami saya. Saya belum bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya yang luar biasa. Mungkin, dengan rasa sabar dan syukur yang seharusnya saya usahakan, setidaknya kelak saya tidak menambah kekecewaan suami terhadap saya.

 

Menjadilah setegar karang 

Sesejuk pagi, seindah rembulan

Sejernih hati, sebening embun

 Sepeka nurani, seperkasa mentari pagi

 (Belahan Jiwa – Seismic)

——–

“Jika saya siap menerima kehadiran suami yang belum pernah saya kenal sebelumnya dalam hidup saya, atas dasar apa saya tidak siap melepaskan kepergiannya?”

 
6 Comments

Posted by on April 28, 2014 in Uncategorized

 

6 responses to “Siap Menerima, Siap Melepaskan

  1. Angelica Marta

    May 1, 2014 at 7:50 am

    Akhirnya nulis lagi…
    Dian sekarang di Bintaro?

     
    • dianizzulhaq

      May 2, 2014 at 7:32 pm

      Alhamdulillah…
      Iya, di bintaro lagi. terima kasih sudah setia membaca blog ini..

      🙂

       
      • Angelica Marta

        May 4, 2014 at 8:50 am

        Sama-sama…
        Ya iyalah gue sering mampir blog ini, kan lagi stalking…
        Xixixixixi….

         
  2. adienesia

    May 2, 2014 at 11:26 am

    Selalu ada hikmah di setiap pemberian Allah.
    Salam kenal mbak 🙂

     
    • dianizzulhaq

      May 2, 2014 at 7:21 pm

      Mbk adienesia : benar mbk.. Selalu ada hikmah.. Salam kenal, terima kasih sudah berkunjung.. 🙂

       
      • adienesia

        May 2, 2014 at 7:47 pm

        Sama-sama. Oh ya, saya laki mbak 🙂

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: