RSS

Monthly Archives: February 2014

Saya Kira Sedang Patah Hati

Suatu waktu di tahun 2010, saya dan keluarga sempat dilanda kegalauan yang cukup mengkhawatirkan. Saat itu, saya dinyatakan lolos seleksi masuk sebuah PTN yang terkenal mahal biayanya. Uang belasan juta harus disiapkan (dengan tenggat waktu sekian hari) sebagai uang pangkal serta untuk biaya lain-lain. Saat itu, keluarga saya tidak punya tabungan untuk biaya kuliah, ditambah lagi SPP kakak (yang berkuliah di PTN yang sama) harus segera dibayar.

Selama beberapa hari orang tua saya mencari pinjaman uang kemana-mana. Setiap pagi, ibu pergi mencari pinjaman dengan wajah penuh semangat, tapi selalu pulang dengan mata sembab karena pinjaman itu gagal didapatkan. Ayah pun seolah tak mau kalah. Setiap ada kesempatan, beliau berusaha gunakan meski kegagalan selalu juga melanda. Beberapa kali saya optimis akan bisa berkuliah, tapi sebanyak itu pula akhirnya saya merasa sedikit putus asa karena deadline pembayaran semakin mendekat sedangkan uang tak kunjung didapat.

“Kenapa ya, kok semua jalan mencari pinjaman serasa tertutup?” tanya kakak keheranan.

“Jika memang belum ada biaya, berhentilah kuliah sejenak tahun ini. Tahun depan barulah lanjutkan,” pesan ibu pada saya.

Hingga akhirnya pinjaman dari bibi kami dapatkan meski tak banyak. Ayah pun ternyata berhasil meminta permohonan pembayaran angsuran. Jadilah saat itu saya ”hanya” membayar sekian juta. Keesokan harinya, ternyata nama saya kembali dinyatakan lolos seleksi sebuah PTK yang saya idamkan dan yang bebas biaya.

Seketika saya tersadar. Saya merasa Allah telah melindungi saya. Bukan semua jalan telah tertutup, melainkan Allah telah menyiapkan jalan lain yang lebih indah.

Kisah itu hanya satu contoh karena masih banyak cerita yang lain. Berulang kali saya merasa telah ‘’patah hati’’ karena tak mendapatkan apa yang saya mau, berlipat kali Allah menunjukkan jawaban atas pertanyaan yang saya pendam. Bisa jadi cepat, bisa jadi pula butuh kesabaran untuk menemukannya di saat yang tepat

Seringnya, kita berburuk sangka atas segala kesulitan yang tampak di depan mata. Kita lupa bahwa kita hanya memakai sudut pandang sebagai manusia. Allah sangat mencintai kita, Allah Mahatahu apa yang kita perlu, tak sekadar apa yang kita mau.

Sebagai penutup, mari kita renungkan gambar di bawah ini baik-baik. Semoga bermanfaat.

Gambar

——-

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

            “Tetapi Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,                          padahal itu tidak baik bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 14, 2014 in Uncategorized

 

Long Distance Family Relationship – Cinta Jarak Jauh

“Andai waktu bisa berputar, kembali berulang ketika kita sekeluarga berkumpul bersama. Ah, tidak bisa ya,” ujar Ibu siang itu dengan sedikit haru.

—–

Sejak saya dan saudara-saudari saya beranjak dewasa, kerap kali ibu berbicara tentang jarak yang kan menjauh. Pun dengan ayah. Ketika kami—para anak-anak—masih kecil, kami sekeluarga memang selalu hidup bersama. Tapi, kami sudah mulai “dilatih” untuk menempuh Long Distance Family Relationship (LDFR). Tuntutan kerja ayah untuk selalu pindah-pindah kota menyebabkan kami beberapa kali mengalami LDFR, meski waktunya hanya sebentar. Pindah kota tentu memerlukan banyak persiapan, termasuk sekolah baru anak-anak yang biasanya baru akan pindah setelah libur cawu/semester untuk memudahkan. Sedangkan instansi ayah pastinya tidak melihat kondisi liburan atau tidak. Itulah penyebab LDFR sejenak kami.

Beberapa waktu belakangan ini, LDFR kami semakin terasa. Kakak yang sudah berkeluarga tinggal di Malang, saya kuliah di Tangerang Selatan 3 tahun kemarin, ayah bekerja di Makassar, sedangkan ibu dan adik-adik tinggal di Pasuruan karena beberapa pertimbangan. Beberapa waktu kedepan, kemungkinan besar saya sudah berada di kota entah dimana (risiko anak PTK) dan ayah kembali dimutasi.

Sedih memang ketika harus pergi jauh dari keluarga. Ketika kembali, ternyata tanpa terasa orang tua kita semakin menua dan saudara-saudari telah mendewasa. Ada detik-detik perjuangan bersama yang harus terlewatkan. Namun, dari LDFR ini saya belajar tentang banyak hal. Saya tahu bagaimana cara ayah untuk menjalin komunikasi dengan cara menelepon semua anggota keluarga setiap hari, bagaimana motivasi ayah senantiasa menemani ketika mental anak-anak jatuh, bagaimana kesetiaan ibu menanti suami dan anak-anaknya, bagaimana ibu mempersiapkan hal-hal spesial ketika kami sekeluarga berkumpul, bagaimana ayah dan ibu memberi kepercayaan pada anak-anak yang tinggal di tempat jauh sambil tetap mengontrol, dan masih banyak lagi. Kuncinya adalah komunikasi, kepercayaan, kesetiaan, tanggung jawab, dan komitmen. Allah telah memberi saya kesempatan untuk belajar kehidupan melalui kondisi ini. Tidak ada yang salah dengan masalah. Yang salah adalah ketika kita salah dalam menyikapinya.

 ********

(Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang)

*Imam Syafi’i*

 

(Bukankah gunung jauh lebih menakjubkan dan lebih terlihat jelas oleh seseorang yang melalui lembah daripada mereka yang menghuni gunung?)

*Kahlil Gibran*

—–

“Biar jarak mencipta rindu ya, Bu,” jawab saya, kala itu.

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2014 in Uncategorized

 

High Level Education For A mother. Is it Important?

                When a woman decides to be a housewife, many people said that she doesn’t need to study until the highest level she can do. It caused by their opinion that a housewife will work only in the kitchen. Besides that,  she will only clean the house and keep her children.

                I disagree with that opinion. According to me, high level education for a woman—although she is a housewife—is very important because she will be a wife and be a mother. Why did I say that?

                Okay, let’s see Japan for the example. It has Kyoiku Mama and Ryosai Kenbo. Kyoiku Mama is education of mother. There are many women in Japan that don’t work. They just want to educate and keep their children. Kyoiku Mama teaches about politeness and other good values to make her children become better people. Most of Kyoiku Mama are undergraduate or postgraduate. They studied not for working, but for educating their children. Japan has good development in economy, and Kyoiku Mama is one of the reason.

                Apart of that, Japan has slogan ‘Ryosai Kenbo’. Ryosai is a good wife and Kenbo is a wise mother. Japan wants to make a good quality in relationship between mother and children. So, its next generation will have good personality. It’s great!

                It reminds me about a motivator’s answer in the other chance. One day, someone asked him, “What’s the function of your wife high level education? She studied abroad, but now she is a housewife.” That motivator said, “Yeah, my wife is a housewife. But, she is my children’s mother, my advisor to build our business, the owner of the asset, and my family’s doctor. So, her high level education is useful.” That motivator inspired me.

                What’s the conclusion? Here it is. We know that woman is a teacher for her children. Education will make her paradigm be better to see the problem, solve the problem, and teach her children. That’s why we are not allowed to underestimate the duty of woman, especially housewife. She has important position to build the country. It means that high level education is very important for her.

—–

(My final speaking examination in The Daffodils. Taken from some sources)

 
5 Comments

Posted by on February 9, 2014 in Uncategorized