RSS

Monthly Archives: June 2013

Ibu sebagai wanita karir, antara pilihan dan tantangan.

                Ups, sudah baca tulisan sebelum ini yang berjudul “Mempersiapkan Generasi Rabbani Sejak Dini, Mau?”? Jika belum, silahkan klik disini. Tulisan berikut ini (yang juga bernarasumberkan Ustadzah Isti) adalah lanjutannya..

Beberapa permasalahan wanita karir dalam pendidikan anak, diantaranya:

1. Ridho Suami

Jangan pernah berkarir tanpa ridho suami ya. Ada yang berpendapat jika hal ini terjadi, maka bukan menjadi masalah jika suami tidak memberi nafkah. Nah, rugi dobel kan. Rugi materi, juga rugi karena tidak diridhoi oleh Allah.

 

2. Mampu mengatur dan memanfaatkan waktu berkualitas dengan anak dan keluarga.

Jangan di waktu-waktu kebersamaan itu kita malah sibuk sendiri. Sibuk SMSan, sibuk BBMan, dll. Jangan sampai jadi ibu yang ‘ada tapi tiada’. Fisik kita ada untuk anak-anak, tapi pikiran kita melayang kemana-mana.

Oya, kalau mau jadi wanita sholihah sekaligus wanita karir, berarti jangan sekali-kali kita menjadi budak selimut. Atur waktu tidur dengan baik.

 

3. Mempercayakan pengawasan anak kepada orang yang baik.

 Kalau kita belum percaya pada khadimat kita, mintalah bantuan orang terdekat kita untuk mengawasi apakah khadimat kita melakukan tugasnya dengan baik. Jangan menyerahkan pengurusan anak pada orang tua kita. Beliau sudah merawat kita, masak harus merawat anak-anak kita?

Satu hal penting terkait ini, kita juga harus membuat khadimat kita berproses menjadi lebih baik. Misalnya kita buatkan halaqoh untuk para khadimat satu komplek, menyekolahkan mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dll. Dengan mendidik khadimat, itu juga berarti kita mendidik anak-anak kita.

 

4. Profesional.

Yakni, konsen pada satu permasalahan yang dihadapi. Jangan dicampuradukkan. Misalnya, urusan kantor janganlah diselesaikan di rumah. Kalau kita tidak mampu profesional, berarti kita memang harus pilih salah satu.. 🙂

 

Bagaimana jika lingkungan sekitar kita memang tidak kondusif untuk tumbuh kembang anak?

 

Usahakan kita menjadi agent of change. Kalau tidak bisa, kita harus pindah rumah. Mau bagaimana lagi, daripada  mengorbankan masa depan anak kita? Shunnahnya, ketika mencari rumah, kita berdoa pada Allah agar dapat lingkungan yang baik.  Selain itu, juga melihat kondisi lingkungan, sudah kondusifkah?

Ketika anak mau bermain di luar rumah, biarkan saja tapi sambil tetap diawasi. Untuk memudahkan pengawasan, lebih baik kita biarkan rumah kita menjadi tempat bermain anak bersama teman-temannya. Jika tidak, maka tanyakan pada anak tadi bermain apa dan dengan siapa. Kalau ada kesalahan, jangan asal melarang tanpa memberi alasan. Berbahaya kalau anak mencari alasan dari luar. Ingat, yang kita lakukan itu filterisasi, bukan interogasi.. 🙂

 

Sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat.. Semoga keluarga kita menjadi salah satu pondasi kejayaan Islam.

Sudah siapkah wahai Para Ibu dan Para Calon Ibu?

 

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on June 18, 2013 in Uncategorized

 

Mempersiapkan Generasi Robbani Sejak Dini. Mau?

Kali ini saya sajikan tulisan tentang Ilmu ‘Parenting’. Berhubung saya belum pengalaman, tulisan ini berdasarkan ilmu dan pengalaman dari seorang narasumber, yaitu Ustadzah Isti.

 Lah? Kenapa kita bahas topik beginian? Kan masih jauh?


Mau jadi orang tua yang baik? Mau punya anak yang super? Ya harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.. Persiapan kita sekarang turut menentukan keberhasilan kita kelak lo.. biidznillah.. 🙂

Oke, mari kita mulai..

Pertama, apa sih kewajiban orang tua terhadap anak?


Ada beberapa hal..

1. Memberi nama yang baik.

Berilah nama yang mengandung doa dan menyerupai nama-nama orang shalih seperti nama-nama Nabi.

 

 2. Memberi nafkah & jaminan kesehatan.

Jadilah dokter pribadi bagi anak kita. Jangan berikan anak obat-obatan kimia karena sekali anak diberi obat seperti itu, ia akan ‘keranjingan’. Tetap andalkan madu. Jika anak pilek, kita bisa membawa dia ke luar agar terkena matahari pagi (maksimal sampai jam 7.30) dan diurut. Pakaikan padanya kain tipis.
Jika diare? Seorang dokter bahkan berkata, ‘Pakai air tajin (air beras) saja, Bu’. Jadi, kita harus banyak belajar tentang pengobatan alami ya..

 

3. Sikap lemah lembut terhadap anak.

Tegas itu perlu, tapi bukan galak. Untuk mengajarkan sholat saja kita baru bisa memukul anak (jika dia tidak mau) pada usia 10 tahun. Itu pun dengan syarat pukulan bukan di wajah dan tidak menyakitkan. Antara usia 7 hingga 10 tahun, kita hanya diperkenankan untuk terus mengajaknya sholat sembari bersabar jika anak menolak.

Masalah yang lain, jika anak rewel meminta ini-itu, jangan turuti semua keinginannya yang kurang perlu. Ini juga merupakan pembiasaan sikap disiplin pada anak.

 

4. Memberi kebebasan berpendapat.

Nabi Ibrahim saja ketika mendapat perintah untuk menyembelih Nabi Ismail menanyakan pendapat putranya terlebih dahulu. Padahal ini wahyu yang harus dilaksanakan. Nah, kita sebagai orang tua kelak juga harus membiasakan musyawarah, bukan berlaku otoriter, sok-sok ngatur.

Ada fase usia anak yang butuh perlakuan berbeda.

Usia 7 tahun pertama  –> Perlakukan sebagai raja, belajarnya sambil bermain. Ini adalah masa golden age. Oya, jangan kira anak bayi tidak tahu apa-apa. Dia menyerap segala yang ia dengar dan ia lihat. Semua memori itu akan ia ‘muntahkan’ ketika sudah bisa berbicara (sekitar usia 1,5 hingga 2 tahun). Bagi ibu-ibu, ketika sedang menyusui, jangan sia-siakan waktu emas ini. Gunakan untuk tilawah atau muroja’ah agar anak dapat merekam suara tersebut.

Usia 7 tahun kedua –> Tanamkan kedisiplinan.

Usia 7 tahun berikutnya –> Berikan dia amanah.

 

5. Memberikan pendidikan sesuai usianya.

Jangan dipaksa harus sesuai zaman ya..

 

6. Menikahkan anak.

 

Itu tadi  kewajiban orang tua kepada anak. Nah, bagaimana kalau kita ingin memiliki anak-anak penghapal Al-Qur’an? Hal-hal apa yang bisa kita lakukan?

Jika ingin anak kita hapal Al-Qur’an, kita juga harus melakukan hal yang sama. Jadikan diri kita sebagai teladan bagi mereka. Meski tidak bisa, setidaknya kita berusaha. Untuk keseharian, sering-seringlah memutar murottal dan melakukan muroja’ah di depan anak agar mereka dapat mencintai Al-Qur’an. Bisa juga membelajarkan anak dengan metode one day one ayat. Ayat apa yang harus dihapal hari itu, ulangilah terus dan tempelkan lafadznya di dinding. Atau dengan cara membaca surah yang akan dihapal anak secara berulang-ulang ketika kita jadi imam sholat bagi mereka. Mungkin juga dengan cara memberlakukan waktu khusus berinteraksi dengan Al-Quran selepas Shubuh dan Maghrib. Banyak cara yang bisa kita lakukan kok.. 🙂

Bagaimana dengan memasukkannya ke pesantren tahfidz sejak dini, usia 6 tahunan misalnya? Jika ingin melakukannya, yakinkan diri dulu bahwa ini pilihan yang tepat. Banyak psikolog yang berkata bahwa kurang baik memisahkan anak usia 6 tahunan hingga menjelang puber dengan orang tuanya. Ternyata, banyak orang yang sukses memasukkan anaknya ke pesantren tanpa kehilangan kedekatan dengan mereka.

Sebagai penutup,  ada satu hal yang penting untuk kita ingat. Walau mungkin kelak kita menjadi seorang ibu sekaligus wanita karir, usahakan kita adalah orang pertama sebagai tempat curhat oleh anak kita. Oya, tentang permasalahan wanita karir dalam pendidikan anak, doakan tulisannya segera menyusul setelah ini. Kalau digabung jadi satu, nanti kepanjangan. Jadi, terus pantau tulisan saya ya.. hehe. Semoga bermanfaat… 🙂Gambar

 

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2013 in Uncategorized